Seperti perilaku
manusia yang lain, pemecahan masalah dipengaruhi faktor-faktor situasional dan
personal. Faktor-faktor situasional terjadi, misalnya pada stimulus yang
menimbulkan masalah pada sifat-sifat masalah (sulit-mudah, baru-lama,
penting-kurang penting, melibatkan sedikit atau banyak masalah lain). Kita
tidak mengulas faktor-faktor situasional secara terperinci. Beberapa penelitian
telah membuktikan pengaruh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis terhadap
proses pemecahan masalah. Simpanse yang terlalu lapar tidak mampu memecahkan
masalah kohler di atas. Simpanse yang setengah lapar, memecahkan masalah dengan
cepat. Manusia yang kurang tidur mengalami penurunan kemampuan berpikir, begitu
pula bila ia terlalu lelah. Ini faktor biologis. Sama pentingnya juga adalah
faktor-faktor sosiopsikologis. Contoh-contohnya bisa dilihat di bawah ini.
·
Motivasi
Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas. Anak yang terlalu bersemangat untuk melihat hadiah ulang tahun, sering tidak dapat membuka pita bingkisan. Ratusan orang berdesak-desakan mencari jalan keluar, dan mati terinjak di night-club yang terbakar. Karena terlalu tegang menghadapi ujian, kita tidak sanggup menjawab pertanyaan pada tes.
Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas. Anak yang terlalu bersemangat untuk melihat hadiah ulang tahun, sering tidak dapat membuka pita bingkisan. Ratusan orang berdesak-desakan mencari jalan keluar, dan mati terinjak di night-club yang terbakar. Karena terlalu tegang menghadapi ujian, kita tidak sanggup menjawab pertanyaan pada tes.
·
Kepercayaan dan sikap yang salah
Asumsi
yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat
diperoleh dengan kekayaan material, kita akan mengalamikesulitan ketika
memecahkan penderitaan batin kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat,
menghambat efektifitas pemecahan masalah. Sikap yang defensif, misalnya :
Karena kurang kepercayaan pada diri sendiri, akan cenderung menolak informasi
baru, merasionalisasikan kekeliruan, dan mempersukar penyelesaian.
·
Kebiasaan
Kecenderungan
untuk mempertahankan pola berpikir tertentu, atau melihat masalah hanya dari
satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat
otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efisien. Ini menimbulkan kejumudan
pikiran (rigid mental set). Lawan dari ini adalah kekenyalan pikiran (flexible
mental set). Cara berpikir yang ditandai oleh semacam kekurang hormatan pada
jawaban-jawaban lama, aturan yang mapan, atau prinsip-prinsip yang sudah
diterima.
Semuanya tidak dipandang sebagai otoritas yang final dan mutlak, melainkan diterima sebagai generalisasi yang kini berguna, tetapi satu saat mungkin dibuang atau direvisi jika observasi yang baru gagal medukung generalisasi tersebut.(Berrien. 1951;45)
Kebudayaan benyak menentukan kejumudan pikiran. Cara kita memandang dan megatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting kita. Tidak jarang cara itu kita pandang sebagai cara yang paling baik.
Semuanya tidak dipandang sebagai otoritas yang final dan mutlak, melainkan diterima sebagai generalisasi yang kini berguna, tetapi satu saat mungkin dibuang atau direvisi jika observasi yang baru gagal medukung generalisasi tersebut.(Berrien. 1951;45)
Kebudayaan benyak menentukan kejumudan pikiran. Cara kita memandang dan megatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting kita. Tidak jarang cara itu kita pandang sebagai cara yang paling baik.
·
Emosi
Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah dapat berpikir yang betul-betul objektif. Sebagaimanusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.
“Takut mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang melumpuhkan tindakan, dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan pemecahan.”(Colemen, 1974;447).
Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah dapat berpikir yang betul-betul objektif. Sebagaimanusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.
“Takut mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang melumpuhkan tindakan, dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan pemecahan.”(Colemen, 1974;447).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar